Batasan dan Pengertian MDK

Dalam pelaksanaan kegiatan pendataan dan pemutakhiran data keluarga diberikan batasan/pengertian terhadap beberapa istilah untuk melengkapi berbagai batasan dan pengertian yang berkaitan dengan pelaksanaan pendataan keluarga, sebagai berikut:

  1. Wilayah Pendataan Keluarga/Pemutakhiran Data Keluarga
    Adalah satuan wilayah tempat tinggal keluarga (termasuk yang baru sebagai hasil pemekaran dan penggabungan wilayah) setingkat RT atau Dusun/RW, sebagai basis lokasi kegiatan pendataan keluarga/ pemutakhiran data keluarga.
  2. Pendataan Keluarga
    Adalah kegiatan pengumpulan data primer tentang data kependudukan, data keluarga berencana dan keluarga sejahtera, data tahapan keluarga sejahtera dan data anggota keluarga yang dilakukan oleh masyarakat bersama pemerintah (Kantor BKKBN) secara serentak pada waktu yang telah ditentukan (bulan Juli sampai September setiap tahun) melalui kunjungan ke keluarga dari rumah ke rumah.
  3. Pemutakhiran Data Keluarga
    Adalah kegiatan pendataan keluarga dengan cara memperbaiki, merubah dan menambah baru data keluarga serta individu anggota keluarga yang terhimpun dalam databasis keluarga yang mutakhir, setiap periode waktu pendataan keluarga.
  4. Databasis Keluarga
    Adalah kumpulan informasi dan data keluarga serta individu anggota keluarga hasil pendataan keluarga/pemutakhiran data keluarga disetiap wilayah pendataan (RT, Dusun/RW) dan setiap tingkatan wilayah administrasi (Desa/Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi, dan Pusat) yang tersimpan dalam file elektronik dan file cetak.
  5. Keluarga

    Adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami isteri atau suami isteri dan anaknya atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 52 tahun 2009). Secara implisit dalam batasan ini yang dimaksud dengan anak adalah anak yang belum menikah. Apabila ada anak yang sudah menikah dan tinggal bersama suami/isteri atau anak anaknya, maka yang bersangkutan menjadi keluarga tersendiri (keluarga lain atau keluarga baru).

    Selain itu terdapat juga Keluarga khusus, yaitu satuan individu/seseorang orang yang tidak diikat dalam hubungan keluarga, hidup dan makan serta menetap dalam satu rumah (misalnya seseorang atau janda/duda sebagai keluarga sendiri, atau dengan anak yatim piatu dll.)

  6. Kepala keluarga
    Adalah laki laki atau perempuan yang berstatus kawin, atau janda/duda yang mengepalai suatu keluarga yang anggotanya terdiri dari isteri/ suaminya dan atau anak-anaknya.
  7. Jumlah jiwa dalam keluarga
    Adalah jumlah semua anggota keluarga yang terdiri dari kepala keluarga sendiri, isteri/suaminya dan atau dengan anak (anak-anak) nya serta orang lain atau anak angkat yang ikut dalam keluarga tersebut yang belum berkeluarga, baik yang tinggal serumah maupun yang tidak tinggal serumah.
  8. Akte Kelahiran
    Adalah Catatan Otentik mengenai kelahiran seseorang/ individu yang dikeluarkan oleh Instansi Catatan Sipil.
  9. Wanita usia subur
    Adalah wanita yang berumur 15 49 tahun baik yang berstatus kawin maupun yang belum kawin atau janda.
  10. Usia Kawin Pertama
    Adalah usia seseorang pada saat pertama kali menikah.
  11. Pasangan usia subur
    Adalah pasangan suami isteri yang isterinya berumur antara 15 sampai dengan 49 tahun.
  12. Ibu meninggal karena melahirkan (kematian maternal)
    Adalah ibu yang meninggal ketika sedang hamil atau melahirkan atau selama 42 hari setelah melahirkan, tanpa memandang tempat kehamilan (di dalam maupun di luar rahim), oleh karena setiap sebab yang ada hubungannya dengan kehamilan atau penanganannya, tetapi bukan karena sebab-sebab kebetulan atau kecelakaan.
  13. Peserta KB
    Adalah pasangan usia subur yang suami/isterinya sedang memakai atau menggunakan salah satu alat/cara kontrasepsi modern pada tahun pelaksanaan pendataan keluarga/pemutakhiran data keluarga. Dalam pengertian ini tidak termasuk cara cara kontrasepsi tradisional, seperti pijat urut, jamu dan juga tidak termasuk cara cara KB alamiah seperti pantang berkala, senggama terputus dan sebagainya.
    1. Peserta KB Pemerintah
      Adalah peserta KB yang memperoleh pelayanan KB dari tempat-tempat pelayanan KB Pemerintah, misalnya: di Puskesmas, di Klinik KB/Rumah Sakit Pemerintah.
    2. Peserta KB Swasta
      Adalah peserta KB yang memperoleh pelayanan KB dar tempat-tempat pelayanan KB Swasta, misalnya: Dokter/Bidan Praktek Swasta, Klinik KB/Rumah Sakit Swasta, Apotek, Toko Obat dan lain-lainnya.
  14. Pasangan usia subur Bukan Peserta KB, terdiri dari:
    1. "Hamil"
      Adalah Pasangan Usia Subur yang pada saat pendataan keluarga/ pemutakhiran data keluarga, tidak menggunakan salah satu alat/cara kontrasepsi, karena sedang hamil.
    2. "Ingin Anak Segera"
      Adalah pasangan usia subur yang pada saat pendataan keluarga/ pemutakhiran data keluarga, sedang tidak menggunakan salah satu alat/cara kontrasepsi, dan tidak sedang hamil, karena menginginkan anak segera (batas waktu kurang dari dua tahun).
    3. "Hamil"
      Adalah Pasangan Usia Subur yang pada saat pendataan keluarga/ pemutakhiran data keluarga, tidak menggunakan salah satu alat/cara kontrasepsi, karena sedang hamil.
    4. "Ingin Anak Tunda"
      Adalah pasangan usia subur yang pada saat pendataan keluarga/ pemutakhiran data keluarga, sedang tidak menggunakan salah satu alat/cara kontrasepsi, tetapi ingin menunda (batas waktu dua tahun atau lebih) untuk kelahiran anak berikutnya.
    5. "Tidak Ingin Anak Lagi"
      Adalah pasangan usia subur yang pada saat pendataan keluarga/ pemutakhiran data keluarga, sedang tidak menggunakan salah satu alat/cara kontrasepsi, tetapi juga tidak menginginkan anak lagi.
  15. Keluarga Sejahtera

    Adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materiil yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota dan antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungan (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 52 tahun 2009).

    Tingkat kesejahteraan keluarga dikelompokkan menjadi 5 (lima) tahapan, yaitu:

    1. Tahapan Keluarga Pra Sejahtera (KPS)
      Yaitu keluarga yang tidak memenuhi salah satu dari 6 (enam) indikator Keluarga Sejahtera I (KS I) atau indikator ”kebutuhan dasar keluarga” (basic needs).
    2. Tahapan Keluarga Sejahtera I (KSI)
      Yaitu keluarga mampu memenuhi 6 (enam) indikator tahapan KS I, tetapi tidak memenuhi salah satu dari 8 (delapan) indikator Keluarga Sejahtera II atau indikator ”kebutuhan psikologis” (psychological needs) keluarga.
    3. Tahapan Keluarga Sejahtera II
      Yaitu keluarga yang mampu memenuhi 6 (enam) indikator tahapan KS I dan 8 (delapan) indikator KS II, tetapi tidak memenuhi salah satu dari 5 (lima) indikator Keluarga Sejahtera III (KS III), atau indikator ”kebutuhan pengembangan” (develomental needs) dari keluarga.
    4. Tahapan Keluarga Sejahtera III
      Yaitu keluarga yang mampu memenuhi 6 (enam) indikator tahapan KS I, 8 (delapan) indikator KS II, dan 5 (lima) indikator KS III, tetapi tidak memenuhi salah satu dari 2 (dua) indikator Keluarga Sejahtera III Plus (KS III Plus) atau indikator ”aktualisasi diri” (self esteem) keluarga.
    5. Tahapan Keluarga Sejahtera III Plus
      Yaitu keluarga yang mampu memenuhi keseluruhan dari 6 (enam) indikator tahapan KS I, 8 (delapan) indikator KS II, 5 (lima) indikator KS III, serta 2 (dua) indikator tahapan KS III Plus.
  16. Indikator tahapan keluarga sejahtera.
    1. Enam Indikator tahapan Keluarga Sejahtera I (KS I) atau indikator ”kebutuhan dasar keluarga” (basic needs), dari 21 indikator keluarga sejahtera yaitu:
      1. Pada umumnya anggota keluarga makan dua kali sehari atau lebih.
        Pengertian makan adalah makan menurut pengertian dan kebiasaan masyarakat setempat, seperti makan nasi bagi mereka yang biasa makan nasi sebagai makanan pokoknya (staple food), atau seperti makan sagu bagi mereka yang biasa makan sagu dan sebagainya.
      2. Anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah, bekerja/sekolah dan bepergian.
        Pengertian pakaian yang berbeda adalah pemilikan pakaian yang tidak hanya satu pasang, sehingga tidak terpaksa harus memakai pakaian yang sama dalam kegiatan hidup yang berbeda beda. Misalnya pakaian untuk di rumah (untuk tidur atau beristirahat di rumah) lain dengan pakaian untuk ke sekolah atau untuk bekerja (ke sawah, ke kantor, berjualan dan sebagainya) dan lain pula dengan pakaian untuk bepergian (seperti menghadiri undangan perkawinan, piknik, ke rumah ibadah dan sebagainya).
      3. Rumah yang ditempati keluarga mempunyai atap, lantai dan dinding yang baik.
        Pengertian Rumah yang ditempati keluarga ini adalah keadaan rumah tinggal keluarga mempunyai atap, lantai dan dinding dalam kondisi yang layak ditempati, baik dari segi perlindungan maupun dari segi kesehatan.
      4. Bila ada anggota keluarga sakit dibawa ke sarana kesehatan.
        Pengertian sarana kesehatan adalah sarana kesehatan modern, seperti Rumah Sakit, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Balai Pengobatan, Apotek, Posyandu, Poliklinik, Bidan Desa dan sebagainya, yang memberikan obat obatan yang diproduksi secara modern dan telah mendapat izin peredaran dari instansi yang berwenang (Departemen Kesehatan/Badan POM).
      5. Bila pasangan usia subur ingin ber KB pergi ke sarana pelayanan kontrasepsi.

        Pengertian Sarana Pelayanan Kontrasepsi adalah sarana atau tempat pelayanan KB, seperti Rumah Sakit, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Balai Pengobatan, Apotek, Posyandu, Poliklinik, Dokter Swasta, Bidan Desa dan sebagainya, yang memberikan pelayanan KB dengan alat kontrasepsi modern, seperti IUD, MOW, MOP, Kondom, Implan, Suntikan dan Pil, kepada pasangan usia subur yang membutuhkan.

        (Hanya untuk keluarga yang berstatus Pasangan Usia Subur).

      6. Semua anak umur 7-15 tahun dalam keluarga bersekolah.
        Pengertian Semua anak umur 7-15 tahun adalah semua anak 7-15 tahun dari keluarga (jika keluarga mempunyai anak 7-15 tahun), yang harus mengikuti wajib belajar 9 tahun. Bersekolah diartikan anak usia 7-15 tahun di keluarga itu terdaftar dan aktif bersekolah setingkat SD/sederajat SD atau setingkat SLTP/sederajat SLTP.
    2. Delapan indikator Keluarga Sejahtera II (KS II) atau indikator ”kebutuhan psikologis” (psychological needs) keluarga, dari 21 indikator keluarga sejahtera yaitu:
      1. Pada umumnya anggota keluarga melaksanakan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.
        Pengertian anggota keluarga melaksanakan ibadah adalah kegiatan keluarga untuk melaksanakan ibadah, sesuai dengan ajaran agama/kepercayaan yang dianut oleh masing masing keluarga/anggota keluarga. Ibadah tersebut dapat dilakukan sendiri-sendiri atau bersama sama oleh keluarga di rumah, atau di tempat tempat yang sesuai dengan ditentukan menurut ajaran masing masing agama/kepercayaan.
      2. Paling kurang sekali seminggu seluruh anggota keluarga makan daging/ikan/telur.
        Pengertian makan daging/ikan/telur adalah memakan daging atau ikan atau telur, sebagai lauk pada waktu makan untuk melengkapi keperluan gizi protein. Indikator ini tidak berlaku untuk keluarga vegetarian.
      3. Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru dalam setahun.
        Pengertian pakaian baru adalah pakaian layak pakai (baru/bekas) yang merupakan tambahan yang telah dimiliki baik dari membeli atau dari pemberian pihak lain, yaitu jenis pakaian yang lazim dipakai sehari hari oleh masyarakat setempat.
      4. Luas lantai rumah paling kurang 8 m2 untuk setiap penghuni rumah.
        Luas Lantai rumah paling kurang 8 m2 adalah keseluruhan luas lantai rumah, baik tingkat atas, maupun tingkat bawah, termasuk bagian dapur, kamar mandi, paviliun, garasi dan gudang yang apabila dibagi dengan jumlah penghuni rumah diperoleh luas ruang tidak kurang dari 8 m2.
      5. Tiga bulan terakhir keluarga dalam keadaan sehat sehingga dapat melaksanakan tugas/fungsi masing-masing.
        Pengertian Keadaan sehat adalah kondisi kesehatan seseorang dalam keluarga yang berada dalam batas batas normal, sehingga yang bersangkutan tidak harus dirawat di rumah sakit, atau tidak terpaksa harus tinggal di rumah, atau tidak terpaksa absen bekerja/ke sekolah selama jangka waktu lebih dari 4 hari. Dengan demikian anggota keluarga tersebut dapat melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan kedudukan masing masing di dalam keluarga.
      6. Ada seorang atau lebih anggota keluarga yang bekerja untuk memperoleh penghasilan.
        Pengertian anggota keluarga yang bekerja untuk memperoleh penghasilan adalah keluarga yang paling kurang salah seorang anggotanya yang sudah dewasa memperoleh penghasilan berupa uang atau barang dari sumber penghasilan yang dipandang layak oleh masyarakat, yang dapat memenuhi kebutuhan minimal sehari hari secara terus menerus.
      7. Seluruh anggota keluarga umur 10 - 60 tahun bisa baca tulisan latin.
        Pengertian anggota keluarga umur 10 - 60 tahun bisa baca tulisan latin adalah anggota keluarga yang berumur 10 - 60 tahun dalam keluarga dapat membaca tulisan huruf latin dan sekaligus memahami arti dari kalimat kalimat dalam tulisan tersebut. Indikator ini tidak berlaku bagi keluarga yang tidak mempunyai anggota keluarga berumur 10-60 tahun.
      8. Pasangan usia subur dengan anak dua atau lebih menggunakan alat/obat kontrasepsi.
        Pengertian Pasangan usia subur dengan anak dua atau lebih menggunakan alat/obat kontrasepsi adalah keluarga yang masih berstatus Pasangan Usia Subur dengan jumlah anak dua atau lebih ikut KB dengan menggunakan salah satu alat kontrasepsi modern, seperti IUD, Pil, Suntikan, Implan, Kondom, MOP dan MOW.
    3. Lima indikator Keluarga Sejahtera III (KS III) atau indikator ”kebutuhan pengembangan” (develomental needs), dari 21 indikator keluarga sejahtera yaitu:
      1. Keluarga berupaya meningkatkan pengetahuan agama.
        Pengertian keluarga berupaya meningkatkan pengetahuan agama adalah upaya keluarga untuk meningkatkan pengetahunan agama mereka masing masing. Misalnya mendengarkan pengajian, mendatangkan guru mengaji atau guru agama bagi anak anak, sekolah madrasah bagi anak anak yang beragama Islam atau sekolah minggu bagi anak anak yang beragama Kristen.
      2. Sebagian penghasilan keluarga ditabung dalam bentuk uang atau barang.
        Pengertian sebagian penghasilan keluarga ditabung dalam bentuk uang atau barang adalah sebagian penghasilan keluarga yang disisihkan untuk ditabung baik berupa uang maupun berupa barang (misalnya dibelikan hewan ternak, sawah, tanah, barang perhiasan, rumah sewaan dan sebagainya). Tabungan berupa barang, apabila diuangkan minimal senilai Rp. 500.000,-
      3. Kebiasaan keluarga makan bersama paling kurang seminggu sekali dimanfaatkan untuk berkomunikasi.
        Pengertian kebiasaan keluarga makan bersama adalah kebiasaan seluruh anggota keluarga untuk makan bersama sama, sehingga waktu sebelum atau sesudah makan dapat digunakan untuk komunikasi membahas persoalan yang dihadapi dalam satu minggu atau untuk berkomunikasi dan bermusyawarah antar seluruh anggota keluarga.
      4. Keluarga ikut dalam kegiatan masyarakat di lingkungan tempat tinggal.
        Pengertian Keluarga ikut dalam kegiatan masyarakat di lingkungan tempat tinggal adalah keikutsertaan seluruh atau sebagian dari anggota keluarga dalam kegiatan masyarakat di sekitarnya yang bersifat sosial kemasyarakatan, seperti gotong royong, ronda malam, rapat RT, arisan, pengajian, kegiatan PKK, kegiatan kesenian, olah raga dan sebagainya.
      5. Keluarga memperoleh informasi dari surat kabar/majalah/ radio/tv/internet.
        Pengertian Keluarga memperoleh informasi dari surat kabar/ majalah/ radio/tv/internet adalah tersedianya kesempatan bagi anggota keluarga untuk memperoleh akses informasi baik secara lokal, nasional, regional, maupun internasional, melalui media cetak (seperti surat kabar, majalah, bulletin) atau media elektronik (seperti radio, televisi, internet). Media massa tersebut tidak perlu hanya yang dimiliki atau dibeli sendiri oleh keluarga yang bersangkutan, tetapi dapat juga yang dipinjamkan atau dimiliki oleh orang/keluarga lain, ataupun yang menjadi milik umum/milik bersama.
    4. Dua indikator Kelarga Sejahtera III Plus (KS III Plus) atau indikator ”aktualisasi diri” (self esteem) dari 21 indikator keluarga, yaitu:
      1. Keluarga secara teratur dengan suka rela memberikan sumbangan materiil untuk kegiatan sosial.
        Pengertian Keluarga secara teratur dengan suka rela memberikan sumbangan materiil untuk kegiatan sosial adalah keluarga yang memiliki rasa sosial yang besar dengan memberikan sumbangan materiil secara teratur (waktu tertentu) dan sukarela, baik dalam bentuk uang maupun barang, bagi kepentingan masyarakat (seperti untuk anak yatim piatu, rumah ibadah, yayasan pendidikan, rumah jompo, untuk membiayai kegiatan kegiatan di tingkat RT/RW/Dusun, Desa dan sebagainya) dalam hal ini tidak termasuk sumbangan wajib.
      2. Ada anggota keluarga yang aktif sebagai pengurus perkumpulan sosial/yayasan/ institusi masyarakat.
        Pengertian ada anggota keluarga yang aktif sebagai pengurus perkumpulan sosial/yayasan/ institusi masyarakat adalah keluarga yang memiliki rasa sosial yang besar dengan memberikan bantuan tenaga, pikiran dan moral secara terus menerus untuk kepentingan sosial kemasyarakatan dengan menjadi pengurus pada berbagai organisasi/kepanitiaan (seperti pengurus pada yayasan, organisasi adat, kesenian, olah raga, keagamaan, kepemudaan, institusi masyarakat, pengurus RT/RW, LKMD/LMD dan sebagainya).
  17. Balita yang mengikuti posyandu.

    Balita yang mengikuti Posyandu adalah keluarga yang mempunyai anak balita yang mengikuti kegiatan di Posyandu di lingkungan tempat tinggalnya, pada tahun pelaksanaan Pendataan Keluarga/Pemutakhiran Data keluarga.

    Posyandu adalah “pos tempat pelayanan terpadu” sebagai wahana mendekatkan pelayanan kesehatan dan KB oleh Puskesmas/Pustu setempat untuk memberikan pemeriksaan dan pelayanan kesehatan dan KB bagi ibu dan anak balita di daerah setingkat Desa/Dusun/RW/RT.

  18. Keluarga punya balita ikut BKB.

    Keluarga punya balita ikut BKB adalah keluarga yang mempunyai anak berusia di bawah lima tahun, yang aktif mengikuti kegiatan Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) di lingkungan tempat tinggalnya, pada tahun pelaksanaan Pendataan Keluarga/Pemutakhiran data keluarga.

    Bina Keluarga Balita (BKB) adalah upaya peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan kesadaran ibu serta anggota keluarga lain dalam membina tumbuh kembang balitanya melalui rangsangan fisik, motorik, kecerdasan, sosial, emosional serta moral yang berlangsung dalam proses interaksi antara ibu/anggota keluarga lainnya dengan anak balita.

  19. Keluarga punya Remaja ikut BKR.

    Keluarga punya Remaja ikut BKR adalah keluarga yang mempunyai anak remaja (anak usia 10 - 24 tahun), yang aktif mengikuti kegiatan Kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) di lingkungan tepat tinggalnya, pada tahun pelaksanaan Pendataan Keluarga/Pemutakhiran data keluarga.

    Bina Keluarga Remaja (BKR) adalah upaya untuk peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan kesadaran orang tua dalam mendidik anak remaja dengan benar, agar anak remaja terhindar dari perilaku seks bebas, HIV-AIDS, dan narkoba.

  20. Keluarga punya Lansia ikut BKL.

    Keluarga punya Lansia ikut BKL adalah keluarga yang mempunyai anggota usia 60 tahun keatas (lansia), yang aktif mengikuti kegiatan Kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) di lingkungan tepat tinggalnya, pada tahun pelaksanaan Pendataan Keluarga/Pemutakhiran data keluarga.

    Bina Keluarga Lansia (BKL) adalah upaya untuk peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan kesadaran keluarga untuk meningkatkan kesejahteraan anggota keluarga yang lansia.

  21. Remaja ikut PIK Remaja.

    Remaja ikut PIK Remaja adalah anak remaja berusia 10 - 24 tahun dari anggota keluarga yang bersangkutan, yang aktif mengikuti kegiatan PIK-Remaja (Pusat Informasi dan Konsultasi Remaja), baik PIK-Remaja di sekolahnya maupun PIK-Remaja di organisasi tempat tinggalnya, pada tahun pelaksanaan Pendataan Keluarga/Pemutakhiran data keluarga.

    Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-Remaja) adalah suatu wadah kegiatan Program Penyiapan Kehidupan Berkeluarga Bagi Remaja (PKBR) yang dikelola dari, oleh dan untuk remaja, guna memberikan informasi dan konseling kesehatan reproduksi serta perencanaan kehidupan berkeluarga.

  22. Keluarga memiliki fasilitas tempat buang air besar sendiri
    Adalah keluarga yang memiliki jamban/kakus/septic tank yang hanya digunakan oleh keluarga yang bersangkutan dan tidak digunakan secara bersama atau umum.
  23. Keluarga memiliki sumber air minum bersih
    Adalah keluarga yang memiliki sumber air minum berupa air kemasan atau dari mata air /sumur terlindung dan air bekas pakainya tidak meresap kembali ke mata air /sumur tersebut.
  24. Keluarga memiliki sumber penerangan listrik
    Adalah keluarga yang memiliki sumber penerangan berupa listrik dari PLN atau non PLN, dan bukan dari Petromak/Pelita atau lainnya.
  25. Keluarga menggunakan bahan bakar listrik/gas untuk memasak
    Adalah keluarga yang memasak sehar-hari menggunakan listrik atau gas, dan bukan menggunakan bahan bakar dari minyak tanah atau kayu bakar/arang.
  26. Keluarga mendapatkan Bantuan modal
    Adalah keluarga pada saat pendataan sedang mendapatkan/ menggunakan bantuan/pinjaman modal (kredit mikro) dari berbagai sumber dengan batas maksimal Rp. 5.000.000,-.
  27. Keluarga ikut anggota UPPKS.

    Keluarga ikut anggota UPPKS adalah keluarga terutama keluarga peserta KB dari keluarga Prasejahtera dan KS I serta keluarga tahapan lainnya, yang aktif menjadi pengurus/anggota UPPKS dilingkungan tempat tinggalnya, pada tahun pelaksanaan Pendataan Keluarga/ Pemutakhiran data keluarga.

    Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) adalah kegiatan usaha ekonomi produktif keluarga, terutama kaum ibu para peserta KB dari Keluarga Pra Sejahtera dan KS I, serta keluarga tahapan lainnya, dalam rangka meningkatkan meningkatkan derajat kesejahteraan keluarga.

  28. Formulir Pemutakhiran Data Keluarga (F/I/MDK/11)
    Adalah formulir yang digunakan untuk mencatat dan memutakhirkan data keluarga dan individu anggota keluarga, sebagai bahan untuk perekaman (entry) data keluarga dengan program aplikasi MDK guna menghasilkan Databasis Keluarga. Formulir ini mencatat secara lengkap data keluarga yang meliputi informasi tentang kependudukan, keluarga berencana dan keluarga sejahtera serta tahapan keluarga sejahtera.
  29. Formulir Print-Out F/I/MDK/11
    Adalah formulir print out F/I/MDK/11 hasil pengolahan Databasis Keluarga yang ada sebelumnya, yang dapat digunakan (dipakai sebagai pengganti F/I/MDK/11) untuk mendata ulang/memutakhirkan data keluarga, karena terjadinya mutasi/perubahan dari data keluarga dan individu anggota keluarga tersebut.
  30. Unit Pengelola Data
    Adalah satuan kerja berada di SKPD-KB Tingkat Kabupaten/Kota, BKKBN Provinsi dan BKKBN Pusat yang bertugas menyimpan dan memperbarui databasis keluarga, serta mengolah, menganalisis dan mendiseminasikan pemanfaatan dan pendayagunaan databasis keluarga sebagai hasil pendataan keluarga/pemutakhiran data keluarga.
  31. Program Aplikasi MDK
    Adalah suatu program aplikasi komputer yang digunakan untuk melakukan perekaman dan pengolahan formulir Pemutakhiran Data Keluarga (F/I/MDK/11) menjadi Databasis Keluarga.
  32. Sarasehan Hasil Pendataan Keluarga
    Adalah wahana pertemuan yang dilakukan oleh Pengelola/Petugas KB dengan Pimpinan Wilayah/Pihak-pihak yang berkepentingan setempat untuk mendiskusikan dan mendayagunakan hasil pendataan keluarga/ pemutakhiran data keluarga, tentang masalah yang berkaitan dengan para keluarga, terutama keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera I (KS I) untuk dilakukan langkah-langkah penanganan dan solusinya.
  33. Diseminasi Hasil Pendataan Keluarga
    Adalah suatu upaya kegiatan penyebarluasan hasil pendataan keluarga/ pemutakhiran data keluarga kepada pihak atau kelompok/individu yang berkepentingan dengan data informasi laporan hasil pendataan keluarga/pemutakhiran data keluarga, agar mereka mengetahui, memahami dan memanfaatkan data informasi keluarga tersebut.
  34. Sosialisasi Hasil Pendataan Keluarga
    Adalah suatu upaya memasyarakatkan data informasi hasil pendataan keluarga/pemutakhiran data keluarga, sehingga data informasi itu dikenal, dipahami, dihayati oleh pihak-pihak tertentu yang berkepentingan atau masyarakat umum.